![]() |
| Yushita Kasdi Weno |
Kasdi kelihatan stres pagi itu,karena semalam suntuk sudah terhitung 60 hari berdo'a, dan semalam adalah malam yang ke 60, tetapi pemberian Allah tak kunjung tiba.
"Apa do'a ku tidak di ijabah ya" guman nya dalam hati.
"Kalau tidak di ijabah berarti aku harus berdo'a yang lain saja....Siapa tahu lebih menguntungkan..." lanjutnya omelan dalam benaknya
"Hahahaha optimis Kas..optimis ...! celetuk Uteng mengagetkan dirinya
"Optimis bagaimana..? sudah menthok usaha dan perjuanganku, tapi gini-gini aja nasibku..."
"Maksud mu kamu protes pada Gusti Allah gitu, lalu kamu meragukan Dia, curiga padanya...Hahahaha..?
"Enak aja kamu ketawa, Aku ini lo yang menjalankan, enak kamu tinggal ngomong dan berteori.."
"Kan lebih baik berteori yang baik, penuh optimis dari pada ngedumel tidak karuan.."
Muka Kasdi masih beringsut-ingsut, kita ngopi ke kedai mbah Gundul, siapa tahu dapat ilham dari ngopi, jangan remehkan kopi. Kas, si kopi tetap bertasbih walau diaduk-aduk dengan air mendidih..hehehe.."
"Kamu memang gila Teng, ...Tahu...Pikiranku sudah setengah di neraka ni..."
Kang Ute tiba dengan beberapa sahabat barunya, kelihatannya riang gembira pagi ini, sembari menyanyikan lagu anak-anak "Naik-naik ke puncak gunung.."
"Yah , kita ini gak ngerti kebutuhan kita,yang ngerti kebutuhan kita ya Allah sang pencipta kita.." begitu lah kata kang Ute kepada dua sahabatnya yang baru
"Lalu apa makna ber do'a..?
"Doa itu untuk menunjukan dirimu bahwa dirimu benar-benar butuh padaNya, dan rasa butuh itu harus dijaga melalui doa,..Kalau sudah tidak butuh nanti kamu menghamba Egomu, Nafsumu,Khayalanmu...hahaha.." sambil menunjuk ke jidat Hurung
Kasdi hanya melongo mendengar ucapan kang Ute yang tak terduga.
"Kamu kan masih ingat to Kas,Teng dan kawan-kawan,..bagai mana saat ngaji di Gunung Kapur Cibodas..disana di sebutkan "Janganlah pencarianmu (doa-doamu) sebagai sebab untuk di beri sesuatu oleh Allah SWT, maka pemahamu kepadaNya jadi sempit, hendaknya pencarianmu (doa-doamu) semata-mata untuk menempatkan wujud kehambaan dan menegakan hak hak KetuhananNya"
"Umumnya orang berdoa agar terwujud apa yang di inginkan, berikhtiar agar tercapai apa yang di cita-citakan, Padahal maksud berdoa Allah SWT, memerintahkan kita berdoa dan berupaya,semata-mata agar eksistensi kehambaan kita yang serba fakir,serba hina, serba tak berdaya dan lemah muncul harus terus menerus di hadapanNya, Bukan agar kita bisa mewujudkan apa yang kita kehendaki, Karena Hal demikian bisa memaksa Allah SWT menuruti kehendak kita.
Pemahaman yang sempit tentang Allah SWT akan terus menerus pada sikap seakan-akan Allah lah yang mengikuti selera kita.Bukan kehendak kita ini akibat kehendakNya, perwujudan yang ada karena kehendakNya,bukan disebabkan oleh kemauan kita "Kata kang Ute
"Ketika kita berdoa seluruh kehinaan dirinya, kebutuhan dirinya dan kelemahan dirinya muncul, itulah Hikmah utama dibalik doa. Ketika kita berikhtiar pada saat yang sama kita menyadari betapa tak berdayanya kita. Sebab kalau kita berdaya,pasti tak perlu lagi Ikhtiar dan Perjuangan.
Ironi-ironi dalam ikhtiar dan doa kita sering terjadi kita lebih memposisikan sebagai "tuhan" dengan banyak memerintah Tuhan agar menuruti kehendak kita, kemauan kita, proyeksi-proyeksi kita, diam-diam kita menciptakan tuhan dan berhala-berhala dalam jiwa kita, Agar dipatuhi Allah sang pencipta kita.
Bahwa kita ditakdirkan bisa bermunajat kepadaNya, Seharusnya menjadi puncak kebahagyan kita, Bukan pada tercapainya hajat kebutuhan kita . Kenapa kita bisa berhijab? karena kita kehilangan Allah SWT,ketika kita berdoa, Karena yang tampak adalah kebutuhan dan hajat kita, bukan Allah sebagai tempat bermuhajat kita"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar